Premium Product
Produk berkualitas tinggi dengan desain modern dan fitur lengkap untuk memenuhi kebutuhan Anda.
Rp 299.000
Kenapa Memilih Produk Kami?
Kami berkomitmen memberikan produk terbaik dengan layanan yang memuaskan
Garansi 100%
Garansi uang kembali jika produk tidak sesuai ekspektasi Anda
Pengiriman Cepat
Pesanan diproses dalam 24 jam dan dikirim ke seluruh Indonesia
Support 24/7
Tim customer service siap membantu Anda kapan saja
Apa Kata Mereka?
Sarah M.
"Produknya amazing! Kualitasnya benar-benar premium dan pengirimannya super cepat. Highly recommended!"
Budi K.
"Sudah 3x order dan tidak pernah kecewa. Pelayanannya ramah dan produknya selalu sesuai ekspektasi."
Rina A.
"Harganya worth it banget untuk kualitas segini. Pasti akan order lagi dan rekomendasiin ke teman-teman!"
Jangan Lewatkan Kesempatan Ini!
Stok terbatas! Dapatkan produk premium dengan harga spesial sekarang juga.
* Promo berlaku sampai akhir bulan ini
Form Pemesanan
Premium Product
Rp 299.000
Di dunia digital sedang viral foto atau gambar seorang penjual es teh keliling. Berawal Ketika dia berdagang di tengah jamaah yang sedang pengajian. Tiba-tiba dia mendapatkan candaan yang tidak lucu dari pendakwah yang mengisi. Dia ditertawakan dan memperoleh kata-kata kasar yang tidak diduganya.
Terlepas dari semua kejadian tersebut, kita seharusnya mengingat betapa mulianya pedagang es teh itu atau bahkan pedagang kaki lima lainya. Saya akan mencoba menguraikan dari sudut pandang agama. Beberapa di antaranya adalah:
Berdagang adalah ajaran nabi
Nabi Muhammad SAW adalah seorang pengusaha atau pedagang. Ada banyak buku atau artikel online yang bertebaran mengisahkan perjalanan usahanya. Hal itu cukup sebagai bukti bahwa bedagang adalah pekerjaan mulia dan berkedudukan luhur.
Lihat pada hadis riwayat At-Tirmidzi berikut:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya, “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.”
Derajat Menuntut Ilmu
Dari Instagram Reels Metrotv, bapak penjual es teh itu ternyata mengikuti ngajinya. Tidak menutup kemungkinan, niat pertamanya adalah ngaji alias menuntut ilmu. Sedangkan derajat orang yang menuntut ilmu dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Bahkan dalam hadis yang popular disebutkan:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bekerja itu lebih baik daripada mengemis
Nabi Muhammad SAW mencintai pekerja keras, terlebih kepada orang yang menjadi tulang punggung keluarga. Hadis riwayat Ibnu Majah:
وفي حديث آخر إن الله يحب الفقير المتعفف أبا العيال
Artinya, “Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, ‘Allah menyukai orang fakir yang apik dan yang menjadi tulang punggung keluarga,’” (HR Ibnu Majah)
Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
Artinya: "Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Simpulan, merasa lebih baik dari orang lain sampai merendahkan dan menghina adalah tindakan ceroboh bahkan bodoh. Lebih baik manfaatkan menanam kebaikan kepada orang lain jika ada kesempatan, karena sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang berbeda di lain waktu.
-----------------------------
Referensi:
1. https://www.nu.or.id/
2. Instagram Metrotv Indonesia
Saya akan berbagi pengalaman tentang menjadi mahasiswa aktif dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Trik ini saya dapatkan sejak menjadi jurnalis lepas di beberapa media massa digital. Pengalaman mewawancarai berbagai narasumber dengan pertanyaan yang singkat dan padat serta mendalam.
Pengalaman menyusun pertanyaan kepada berbagai narasumber saya aplikasikan ke dalam aktivitas mahasiswa. Sehingga acap kali mahasiswa yang sedang presentasi kesulitan mencari jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan. Berikut beberapa hal yang saya pegang dalam menyusun pertanyaan, yang akan saya rangkum dengan singkat.
Pahami materi yang akan ditanyakan.
Sebelum bertanya, harap pastikan bahwa kamu benar-benar memahami topik diskusi. Pertanyaan yang terlalu kabur atau umum biasanya tidak banyak membantu. Lebih bijaksana jika kamu menemukan bagian yang masih tidak jelas atau bahkan tidak dibahas.
Di samping itu, pertanyaan yang menguasai materi bisa memunculkan sanggahan dari jawaban yang sudah diberikan secara berkelanjutan. Sehingga, pertanyaan yang kamu lempar bukan sekadar pertanyaan formalitas untuk mendapatkan nilai dari dosen, tetapi kamu memang ingin mendapatkan wawasan yang lebih jauh.
Satu pertanyaan akan mampu melahirkan cabang-cabang pertanyaan kecil lainnya. Sebab itu, bertanyalah karena kamu sudah mengetahui isi materi yang disampaikan, bukan malah bertanya karena tidak tahu sama sekali. Dalam hal ini, kamu bisa menggunakan semua kata tanya (5W+1H).
Contoh: Apa yang membuat kamu mengambil teori ini? Siapa tokoh yang setuju dan menolak teori ini? Di mana teori yang kamu ambil ini bisa diimplementasikan? Bagaimana cara mengimplementasikan di era teknologi ini? Dan masih banyak lagi.
Bertanya menggunakan kata “mengapa” atau “bagaimana”.
Pertanyaan “mengapa” berguna untuk menggali alasan atau latar belakang dari sebuah teori secara mendalam. Sedangkan “bagaimana” untuk mencari langkah-langkah atau penjelasan konkretnya. Selain kedua pertanyaan ini, pertanyaan lain akan mudah terjawab dengan singkat dan tidak bisa dikomentari balik.
Contoh: Mengapa kamu memilih teori A dibanding teori B? Bagaimana teori ini mampu berkontribusi di kehidupan nyata saat ini?
Berikan asumsi.
Pertanyaan akan lebih tajam jika berdasar pada asumsi. Bertanya sebatas materi tidak cukup membuat orang yang akan menjawab berpikir panjang. Pertanyaan dengan asumsi juga mampu mendalami materi yang sedang dibahas. Sebab, orang yang bertanya maupun yang akan menjawab harus menguasai berbagai argumen, berbagai sudut pandang.
Contoh: Asumsi tentang teknologi AI memang sudah digunakan di berbagai industri secara meluas. Mengapa sektor industri semakin banyak yang menggunakan AI dan bagaimana cara memastikan penggunaannya tidak melanggar aturan?
Cari sudut pandang yang berbeda.
Jika materi yang sedang dibahas adalah tentang ekonomi, cobalah bertanya dengan menggunakan perspektif seorang psikolog. Coba mencari celah di mana keduanya masih terhubung. Dengan pertanyaan ini, diskusi bisa lebih aktif, kritis, dan mendalam. Bahkan teori lain bisa muncul menjadi pengetahuan baru yang menarik.
Contoh: Makalah yang sedang dibahas adalah tentang teknologi digital. Bagaimana pesantren menyikapi kemajuan teknologi menurut kelompok kalian? Bagaimana menumbuh-kembangkan psikologi anak di zaman kemajuan teknologi begini?
Mencoba provokatif.
Dalam hal ini, bukan pertanyaan yang menyinggung. Melainkan sebuah pertanyaan semacam pendapat. Seperti pertanyaan yang bisa dilontarkan adalah tentang sisi kekurangan atau keterbatasan teori dalam materi yang disampaikan. Kemudian, tanyakan solusi untuk mengatasinya.
Contoh: Setelah kamu menulis makalah ini, apakah kamu setuju dengan teorinya? Bagaimana teori yang kamu tulis ini berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini?
Ambil data dan fakta.
Baca sebuah berita terkini, lalu gunakan data dan fakta yang tertera untuk menanyakan teori yang sudah dibahas. Contoh: berdasarkan data dan fakta terbaru, di beberapa media massa, beberapa lapisan masyarakat masih ada yang tidak suka dengan naturalisasi pemain timnas atau atlet. Sedangkan di makalah kamu menjelaskan sebagai warga negara kita harus memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme. Bagaimana kamu menyikapi hal demikian?
Sebagai simpulan, pertanyaan yang mendalam memerlukan persiapan, pemahaman terhadap materi, dan kemampuan untuk mengeksplorasi wawasan yang lebih jauh. Menjadi penanya yang tajam tidak hanya berguna sebagai mahasiswa, tetapi juga dapat membantu dirimu menjadi seorang yang kritis dan analitis.
"Yang paling menyakitkan dari patah hati adalah menyembuhkan luka itu sendirian" (Ahmad Sangidu)
Siapa yang tidak tahu beliau, sang revolusioner dunia, ialah Nabi Muhammad SAW. Periode kepemimpinan beliau mencapai kurang lebih 23 tahun. Beliau memimpin 13 tahun pertama di Mekah, tempat lahirnya. Lalu, selama 10 tahun singgah di kota Madinah. Waktu yang tidak sebentar untuk ukuran pemimpin.
Cara memimpin ala Nabi
Muhammad SAW ini terbilang efektif karena sudah berhasil mengubah masyarakat
dunia, meski hanya Mekah dan Madinah yang pernah beliau singgahi. Faktanya,
kita di Indonesia bisa merasakan kehadiran Islam, meski beliau tidak pernah ke
Indonesia. Inilah bukti kesuksesannya.
Pemimpin memang tidak
wajib blusukan biar masyarakat yang dikunjunginya sejahtera. Tetapi, dengan fokus
kepada orang terdekatnya, daerah sekitarnya, itu juga bisa memperbaiki
masyarakat dunia. Ini seperti dalam film “Jai Ho” yang diperankan Salman Khan
(Jai Agnihotri), dengan ideologi “Jangan berterima kasih, lebih baik bantu 3
orang lagi dan minta mereka untuk membantu 3 orang lagi”
Adapun Nabi Muhammad SAW
memimpin dengan hikmah, maizah hasanah, dan berdebat dengan sopan. Agar lebih
jelas, akan saya coba uraikan berikut.
Hikmah
Ini memiliki makna yang
cukup luas. Biasanya orang menyebut hikmah adalah bijaksana. Jika hendak diterjemahkan
dengan makna yang praktis, hikmah berarti bijaksana, yakni selalu menggunakan
akal budinya yang meliputi pengetahuan dan pengalaman. Orang yang bijaksana
pasti tajam pikiran.
Tidak berhenti pada makna
tersebut, hikmah alias bijaksana bisa juga bermakna pandai dan berhati-hati.
Saat cobaan atau kesulitan menghampiri, orang yang hikmah tentu akan cermat dan
teliti dalam mencari solusi. Tidak terburu-buru mengambil keputusan. Tenang
dalam mengadapi masalah.
Nabi Muhammad SAW ketika
menghadapi para musuhnya pun dengan hikmah. Berulang kali dakwahnya mendapatkan
respon negatif dari masyarakat yang bahkan telah mengenalnya lama. Seperti yang
kita ketahui, beliau pernah diludahi, dicaci maki, hingga dilempari kotoran dan
batu. Tetapi beliau tidak marah, justru malah mendoakan kebaikan untuk
orang-orang itu.
Pemimpin saat ini perlu
belajar seperti itu. Ketika diamuk netizen, sikap pemimpin harus hikmah. Jangan
sampai tersulut emosi lalu menghakimi netizen. Ketika hendak mengambil keputusan,
karena itu untuk rakyat, pemimpin kudu cermat dan teliti, membuka tajam pikirannya
untuk mencari solusi dari masalah yang terjadi.
Mauizah Hasanah
Istilah ini dalam Islam
dikenal dengan makna pelajaran yang baik. Secara ringkas dapat disebut sebagai nasihat.
Ini meliputi banyak segi, bisa berupa petunjuk, bisa juga berbentuk peringatan,
atau teguran kebaikan. Di dalamnya terkandung pesan moral, yang bisa dijadikan
bahan pelajaran.
Kalau sudah jadi tokoh,
pemimpin, apalagi tinggi jabatannya, acap kali pidato sampai berlembar-lembar. Tentu,
audiens malas mendengar semua narasi begitu. Harusnya seperlunya. Sehingga
pidato yang dibacakan penuh nasihat kebaikan. Dan asyik.
Coba kita ingat, kapan
Nabi Muhammad SAW berpidato dengan durasi lama? Benar, beliau selalu berbicara
seperlunya, secukupnya. Bahkan dalam salah satu hadis, beliau berpesan “Jika
tidak bisa berkata baik, lebih baik diam”
Menjadi pemimpin harus
bisa memberi petunjuk yang baik. Sebab, setiap gerak-geriknya selalu diamati
masyarakat. Berani memberikan peringatan atau teguran kebaikan. Sebab, pemimpin
juga harus memberikan pesan moral kepada masyarakat. Sehingga masyarakat merasa
dekat dengan pemimpin. Salah satunya dengan menjaga bicaranya.
Berdebat dengan sopan
Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda, "Jangan marah". Beliau memang masyhur dengan sifat lemah
lembutnya. Baik kepada semua orang tanpa terkecuali. Sebab itu Nabi Muhammad
SAW tidak pernah berdebat akan hal-hal yang sia-sia apalagi sampai muncul emosi
marah. Nabi Muhammad SAW selalu berhasil menyelesaikan urusan dengan baik.
Adapun berdebat dengan sopan
yang dimaksud adalah berdiskusi. Dalam dunia akademik, diskusi biasa dimaknai
sebagai sebuah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran membahas masalah-masalah
yang sedang dihadapi. Kasus pencurian, misalnya. Tidak main hakim sendiri, atau
biasanya ada penyelesaian yang disebut “jalan kekeluargaan”.
Nabi Muhammad SAW berdialog
dan menyelesaikan masalah masyarakat setempat tanpa melukai perasaan yang lain.
Dengan kecakapan beliau dalam berdialog, akhirnya terjadi persahabatan kaum Muhajirin
dan Anshar pada waktu itu.
Pemimpin ketika menjumpai kritik dan saran dari masyarakat
harus ditanggapi dengan sopan. Berdialog dengan sopan, duduk bersama. Sehingga
seolah tidak ada sekat di antara keduanya. Karena semua membangun negeri, bukan
hanya pemimpin. Pemimpin tidak akan sukses jika dalam sosial kemasyarakatannya
gagal.



