Outdoor
Fashion
Life-Style
Food

Latest Stories

RESISTANSI BHINNEKA TUNGGAL IKA





Penulis: Ahmad Sangidu
(Repost from Majalah Harokati)

Tragedi 212 yang sempat menjadi trending topic kini menimbulkan efek samping yang luar biasa. Tentu saja, karena inilah karakteristik orang-orang saat ini. Menekan share lebih cepat dari pada mengolah data yang didapat. Tidaklah penting itu benar ataupun salah, yang penting hanyalah andil dalam event tersebut. Sehingga sering kita jumpai di sekitar berupa orang-orang yang terlalu fanatik. Misal, sari roti yang diharamkan dan gerak gerik dianggap penistaan terhadap agama. Media masa atau yang sering disebut medsos, memang memiliki kekuatan yang sulit kita bendung.
Namun ada hal yang harus kita ingat kembali. Perjuangan pahlawan yang namanya tidak bisa kita sebutkan satu per satu. Mereka telah mempersatukan kita dalam satu kalimat. Entah kalimat itu adalah pesan dari mereka atau ideologi untuk negara Indonesia ini. Akan tetapi mayoritas dari kita yakin bahwa itu adalah sebuah semboyan dalam menjalani kehidupan. Kalimat itu sangat singkat, hanya berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika”.
Sadar atau tidak, kalimat itu mempunyai daya, kekuatan yang sangat besar bagi kehidupan kita khususnya Sang Garuda. Kita mengenal dari Sabang sampai Merauke yang tidak cukup dihitung dengan jari perbedaannya. Mulai dari perbedaan bahasa, suku, adat, budaya, dan masih banyak lagi. Kalimat itu pula yang telah mempersatukan kita, dari Sabang sampai Merauke menjadi Indonesia.
Berbeda-beda namun tetap satu juga. Itulah maksud dari kalimat singkat yang menjadi semboyan dalam kehidupan. Ragam budaya, adat, aneka bahasa dan lain sebagainya tentu tidaklah mudah mengatasinya. Namun kita sangat beruntung, para pahlawan kala itu telah mencetuskan seuntai kalimat. Luar biasanya, efek samping dari kalimat itu bisa kita rasakan sampai saat ini. Karena itulah kita masih bisa bertahan hidup pada arus globalisasi ini. Kemajuan zaman ini memang sudah tidak bisa dipungkiri. Setiap orang mungkin juga ingin untuk mengikuti arus kemajuan ini.
Mimpi buruknya, saat ini dengan kemampuan teknologi yang tidak bisa kita bendung kini mencoba memudarkan arti kalimat itu. Sekarang, seorang bisa menjadi jurnalis dan juga sebagai pemilik akun berita hanya dengan memegang HP. Seseorang hanya bermodal laptop bisa membuat video atau gambar yang melesat jauh dari fakta yang ada. Seseorang hanya dengan berkunjung ke warnet untuk bisa memposting tulisan anarkis. Ini baru dalam satu arah, teknologi saja. Patut kita bayangkan, jika semua sudah lupa akan semboyan awal itu. Mungkinkah Indonesia masih mempunyai Pulau Sumatra, atau mungkinkah Jawa masih mempunyai Jogja sebagi daerah istimewa?
Arus globalisasi memang sangat deras. Semua orang berkeinginan untuk menggapai cita-citanya. Kebahagiaan ialah tujuan akhirnya. Akan tetapi harus sadar pentingnya semboyan bangsa kita. Orang kaya mempermiskin orang miskin, orang pintar membodohi orang bodoh, dan lain sebagainya. Ini sama sekali bukanlah ajaran dari semboyan itu. Justru terlempar jauh dari maksud semboyan tersebut. Namun ini hanyalah sikap egois, ingin menng sendiri. Orang yang sukses itu selalu bersama-sama dalam meraih kemenangan, saling membantu dengan orang lain. Orang gagal meraih kemenganannya dengan menjatuhkan orang lain.
Sekarang mari kita check and recheck  fakta yang ada. Kemengan Timnas Indonesia atas Vietnam. Beberapa pemain dan juga pelatihnya bukan dari Islam. Mereka telah mengingatkan kembali pada kita akan semangat bhinneka tunggal ika. Indonesia juga telah mengakui adanya enam agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Seseorang boleh-boleh saja menganut salah satu dari enam agama. Bisa Islam, Kristen, ataupun yang lainnya. Bahkan sekarang ada yang tidak menganut salah satu dari enam agama tersebut dan itu juga diperbolehkan oleh pemerintah.
Tentu tidaklah cukup jika semua perbedaan yang ada di Indonesia ini kita goreskan dalam tulisan. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil saja, tubuh kita. Ada yang namanya kaki dan ada pula tangan. Hal ini memang tidak bisa kita hindari dan coba hal tadi diingat kembali. Betapa hebatnya saat perbedaan-perbedaan tersebut menjadi satu. Timnas bisa menang melawan Vietnam, seseorang bisa memilih agama yang bisa ia jalankan dan tidak merepotkan baginya, serta kita dapat malakukan aktivitas setiap hari itu karena adanya perbedaan.
Semua orang memiliki kekuatan dari semboyan itu dalam dirinya. Apalagi warga Indonesia, yang semboyan itu diabadikan dalam lambang negara. Hanya saja kekuatan tersebut sedang tertidur pulas. Kekuatan itu juga terkadang bangun, namun akan lebih lama untuk tertidurnya. Jika diri seseorang telah sadar akan bhinneka tunggal ika, maka keharmonisan dan segala bentuk perbedaan akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Hal inilah yang harus kita tunjukkan pada dunia, agar mereka cemburu pada kita, bangsa Indonesia.*


SALAM MAHASISWA INDONESIA

APA KABAR MAHASISWA?
Oleh Eko Prasetyo


Pikiran adalah bunga: ujaran adalah kuncup; dan tindakan adalah buah di dalamnya. 
(Ralph Waldo Emerson)
Aku tidak mengajarkan kekerasan, tetapi apabila jempol kakiku diinjak, aku wajib membalasnya.
 (Malcolm X)

BIARKAN aku bercerita tentang masa lalu. Masa dimana aku pernah menjadi sepertimu. Menjadi mahasiswa yang menggenggam harapan. Bukan hanya untuk bekerja atau menjadi sarjana. Melainkan untuk ikut mengubah jalannya sejarah.

          Kala itu kampus tak semegah seperti sekarang. Pos satpam hampir tak ada. Dosen mirip dengan mahasiswa. Bedanya mereka berusia lebih tua. Hanya itu, karena dalam soal bacaan kami berlomba. Terlebih kalau soal analisa. Kami tak sepintar dosen tapi kami sering membantah gagasannya. Kelas bukan tempat orang berdoa dimana yang ada hanya diam dan mengangguk-angguk. Kelas menjadi ruang pertarungan ide, dimana tiap pikiran diadu untuk dicari mana yang lebih sesuai. Mungkin itu sebabnya kampus, buat kami, bukan tempat untuk belajar saja melainkan juga medan berlaga. Bertarung dengan kekuasaan yang otoriter dan berdebat dengan ide yang konservatif. Itulah sebabnya kami betah berada di sana. Aku selesaikan kuliahku tujuh tahun. Itu lumayan cepat karena yang lain bisa sampai 10 tahun. Kampus mirip tempat dimana waktu dan usia melintas dengan perlahan. Maka aku mengenal kampusku begitu rinci: nama tukang parkir, yang jaga kantin hingga nama-nama pegawainya.

          Wajar kalau cinta bersemi di sana. Syair jatuh cinta bisa ditulis dimana saja. Alamat cinta itu bisa kemana-mana: kadang jatuh pada seorang gadis pintar, kerapkali jatuh pada gadis yang jadi idola, tapi juga bisa mekar di pundak gadis saleh. Cinta di usia mahasiswa seperti mencoba hidup dalam belantara petualangan dan harapan. Kita mencintai bukan saja karena rupa tapi ide serta gagasan yang serupa. Puisi, gitar dan buku adalah senjatanya. Lewat puisi rayuan itu bicara dengan kata-kata indah yang berterbangan. Gitar membuat cinta jadi sebuah jembatan melodi. Kemudian buku membuat cinta seperti sebuah lembaran cerita yang tak habis-habisnya. Itulah mengapa hidup mahasiswa tempo dulu padat dengan kisah romantika: di balik bangunan kampus ada banyak kisah indah yang terkubur. Hanya cinta kami bisa meluas kemana-mana. Cinta kami pada keadilan membuat kami kerapkali menggugat tatanan. Cinta kami untuk kebenaran membuat kami bertarung melawan kezaliman. Cinta kami pada kemanusiaan membuat kami mudah sekali bangkit nyalinya saat melihat ketimpangan. Cinta adalah kata yang tepat untuk melukis betapa imaginatif dan tidak realistiknya kami.

         Kini apakah suasananya tetap sama? Sayangnya, aku tak melihat lagi kelas yang padat oleh debat. Kuliah dilalui dengan cara sederhana: datang-dengarkan lalu pulang. Tak ada yang terlambat masuk kelas dan tak ada yang tertinggal ketika pulang. Mirip tontonan bioskop ketimbang kuliah. Kini anak-anak muda bercanda di kantin atau berpetualang dengan gadgetnya. Kampus makin padat sekaligus kian sesak. Mereka duduk bersama tapi tak menyapa. Mereka berdekatan tapi tak berteguran. Yang luas adalah tempat parkir dan selalu diberi spanduk untuk keluar bawa karcis atau STNK. Kerapkali aku bingung ini kampus atau kantor Satlantas. Busanamu indah dan menarik. HP yang kaubawa bisa tiga, dua bahkan empat. Motor dan mobil yang kamu pakai selalu keluaran baru. Bersanding dengan kekasih seakan kalian jadi pasangan sehidup semati. Jika hidup tetap bersama dan kalau mati segera cari ganti. Kudengar juga kalian terampil mencari uang segala. Training wirausaha telah membuat cita-citamu dangkal: menjadi jutawan. Hidup dengan keyakinan mendapat untung dengan iman yang bermodal uang. Muda lalu kaya terus berkeluarga. Kemudian pelan-pelan mati dengan penyakit yang mudah diduga. Sungguh potret hidup normal dan wajar. Padahal kehidupan sekelilingmu sedang tak berjalan normal. Jika kau perhatikan situasi sosial lagi berjalan penuh sengketa. Normalkah keadaan kalau kekuasaan dipegang oleh orang-orang itu melulu? Wajarkah kondisi bangsa kalau aparat negara seenaknya menembaki rakyatnya sendiri? Bisakah bangsa disebut beradab kalau pejabat bisa berasal dari penjahat dan penjahat bisa jadi pejabat? Dan betapa bahayanya kalau kampus tidak mengenalkan keadaan itu pada kalian?

         Itulah yang membuat kita jadi bangsa yang berhenti di tempat. Dihitung sejak merdeka kita menginjak usia 70 tahun. Dibanding negeri tetangga yang usianya lebih muda kita kalah jauh. Soal swasembada beras kita kalah dengan Vietnam. Urusan pendidikan kita kalah dengan Singapura. Tentang kedaulatan ekonomi kita jauh dari Malaysia. Padahal semua negara itu tak banyak punya kekayaan alam. Semua negara itu berdiri jauh setelah kita baca Proklamasi. Vietnam malah mengukir kisah pedihnya dalam film Rambo. Populasi penduduknya kalah jauh dengan yang kita punya. Partai politik mereka tak sebanyak yang kita miliki. Komisi pengawas negara jumlahnya tak sebesar yang kita dapatkan. Andai kita mengalahkan mereka, itu tetap dalam kategori yang buruk: angka korupsi dan tingkat kesenjangan sosial. Korupsi sudah seperti kegiatan sehari-hari dan kesenjangan sosial jadi ancaman saat ini. Dulu kita sempat optimis ada KPK yang menangkap para pejabat yang kegilaanya menumpuk harta. Ada yang ditangkap basah dan ada yang ditangkap karena kesaksian teman-temanya sendiri. Tapi sekarang KPK seperti sangkar hantu: para komisionernya dikriminalisasi untuk soal-soal menggelikan dan kewenanganya mau dicopot pelan-pelan. Lalu kesenjangan sosial terus dibiarkan dengan memberi pupuk bagi para hartawan dan tetesan kecil bantuan buat yang miskin. Kita seperti menjadi bangsa yang bolak-balik hanya rindu akan figur tauladan dan kenyataan pahit seperti sebuah takdir. Tapi benarkah tak ada jalan keluar dari kerumitan ini semua?

          Tidakkah kalian percaya kalau negeri ini dulu diproklamirkan oleh dua orang mahasiswa? Yang satu namanya Ir Soekarno dan wakilnya Drs Moh Hatta. Yang satu anak tekhnik dan satunya anak ekonomi. Yang satu seorang orator dan satunya administrator. Keduanya ditemani oleh banyak mahasiswa yang cakap dan punya banyak mimpi. Sjahrir meski tak tuntas kuliah tapi pengetahuanya kaya, Amir Sjarifuddin pintar dan berani, Moh Natsir saleh dan sederhana, Haji Agus Salim berwibawa dan santun, Tan Malaka nekat dan petualang. Sederet nama lain bisa dijejer untuk memberi bukti kalau bangsa ini didirikan oleh anak-anak muda yang usianya masih mahasiswa. Tampang mereka tak jauh dengan kebanyakan mahasiswa semester awal: lucu, nekat dan punya pikiran besar. Seperti benih, pikiran mereka dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, pendidikan dan pergaulan. Pergerakan mengajarkan arti pengorbanan, pendidikan menanam budaya pengetahuan dan pergaulan mencipta solidaritas. Tiga-tiganya menempa jiwa, membentuk pengalaman dan meneguhkan tekad. Kita hampir tak pernah tahu berapa IP Soekarno, apakah Sjahrir rajin kuliah tidak atau bagaimana Hatta merias dirinya sebelum berangkat ke kampus. Informasi itu terlalu sederhana untuk orang yang punya kegelisahan seperti mereka. Mustinya lukisan gagasan mereka disebar luaskan melalui pendidikan tinggi. Kisah mereka sebagai mahasiswa harusnya jadi mata kuliah utama. Pastilah pada masa itu kampus jadi tempat untuk menanam ide-ide segar dan menantang. Masa dimana kampus berisi lalu lintas gagasan indah. Masa dimana kampus jadi tempat untuk menempa kader-kader militan. Kini mampukah kampus mengantarkan itu semua?


          Aku bisa bilang mungkin dan pasti bisa! Lihat mimpimu waktu tinggal di kampus ini. Apa hanya pekerjaan yang kalian butuhkan? Tentu tak hanya itu. Apakah kalian kuliah hanya ingin menumpuk-numpuk uang? Pasti tak seperti itu. Kalian kuliah karena memang ada kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman. Kalian kuliah karena memang ada mimpi besar yang mau diwujudkan. Mimpi itu bukan sekedar ‘bekerja dan punya jabatan’. Mimpi itu tak hanya untuk jadi ‘sarjana’. Mimpi itu seperti apa yang dikatakan Kahlil Gibran ‘kamu bukanlah apa yang kamu capai tapi apa yang kamu impikan untuk kamu capai’. Kini tidakkah kamu ingin negeri ini berdiri dia tas tugu kehormatan? Tak ada pencuri yang berani jadi pejabat dan tak ada pejabat yang nekat mencuri uang rakyat. Tak ada kekerasan, pembunuhan atau pemenjaraan gara-gara tuduhan dan prasangka? Tidakkah kamu ingin pendidikan ini melahirkan para petualang pengetahuan seperti Hawking? Seorang yang kini punya keinginan untuk menjawab apakah UFO itu ada? Bukankah kamu ingin kita juga melahirkan pemimpin yang berani seperti Soekarno atau Hugo Chavez atau Fidel Castro: yang berani berdiri di atas kehormatan dan kedaulatan bangsanya sendiri? Keduanya berani menentang negara raksasa karena kebijakanya yang durjana. Kita ingin negeri ini menjelma dengan prestasi besar dan luhur. Sebab kelahiran bangsa ini diprakarsai bukan oleh politisi culas apalagi aparat korup, melainkan geliat anak-anak muda yang berani, kreatif dan radikal.

          Buktinya sudah ada dan jejaknya telah ditanam. Soal urusan film kita punya banyak anak muda yang jadi sutradara, penulis hingga pemain yang raih penghargaan dimana-mana. Soal urusan pengetahuan kita punya anak-anak muda yang menang olimpiade, duduk sebagai ilmuwan ternama dan punya banyak temuan mutakhir. Soal kebudayaan banyak anak muda yang telah jadi duta kesenian, pelukis ternama, penulis terkenal hingga para perupa yang mendunia. Hanya satu soal yang kita krisis dan langka: politisi muda yang pintar, berani dan punya gagasan alternatif. Ada anak muda tapi jadi politisi yang berujung hidupnya di penjara. Sangkaan untuknya menyedihkan: korupsi. Selayaknya kampus menyumbang kontribusi untuk menghidupkan sosok politisi muda. Sosok yang bisa dibesarkan melalui kemampuan untuk peduli, terlibat dalam perkara kemanusiaan hingga membela soal-soal berkait dengan ditebangnya hak-hak rakyat. Tak tahukah kamu bahwa di Papua sana perjuangan untuk menuntut keadilan bisa berakhir dengan peluru? Apa kamu tak dengar kalau di Kulonprogo ada warga yang menolak pendirian tambang pasir besi dan bandara? Sudahkah kamu paham jika korban lumpur Lapindo puluhan tahun silam masih belum dapat ganti rugi penuh? Sadarkah kamu jika di Rembang tuntutan rakyat untuk menolak pabrik semen dipatahkan oleh putusan pengadilan? Dan salah satu penyokong putusan itu adalah kesaksian dosen di kampus kalian sendiri!? Biar kalau diurutkan sesungguhnya kita sedang menghadapi suasana dimana rakyat kecil masih kesusahan untuk menggapai keadilan.

          Keadilan tak bisa ditunda oleh janji apalagi kesepakatan. Keadilan dihadirkan dengan perjuangan, pertarungan dan perebutan. Tak mungkin rakyat kecil hanya jadi ‘saksi’ melulu atas kemajuan pembangunan. Tak bisa lagi tanah atau sawah rakyat disita untuk sekedar kepentingan pabrik dan industri. Juga tak mungkin lagi membiarkan perusahaan seenaknya menekan buruh dan tak memberi upah yang layak untuk mereka. Lebih tak mungkin lagi membiarkan warga yang menuntut keadilan dengan sangkaan separatis apalagi teroris. Hukum tak bisa tegak kalau hanya menerkam mereka yang posisi kelas sosialnya ada di bawah. Hukum sebaiknya dibangun untuk meneguhkan keadilan: menyeret para penjahat kemanusiaan dan memberi hukuman untuk mereka yang berkuasa tapi sewenang-wenang. Itu semua tak bisa terwujud kalau kampus tak pernah menaruh kesadaran mahasiswa untuk terlibat dan tergerak mengubah keadaan. Itu tak mungkin dapat terealisasi kalau kampus hanya padat dengan kuliah, aturan dan pelatihan menjadi jutawan. Saatnya kampus mengubah peranan: diawali dengan dukungan agar mahasiswa terlibat organisasi, membiarkan mereka untuk sering mengunjungi yang miskin dan menceburkan mereka dalam wilayah yang bahaya. Wilayah dimana rakyat mempertaruhkan nyawa untuk membela hak miliknya. Kalau kampus mampu mengantarkan itu kita tidak hanya melahirkan sarjana tapi orang mulia: dimana mereka mau mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar ketimbang dirinya-sendiri.

          Menariknya kampus punya agenda berbeda. Mereka tak mau mahasiswa tinggal lama di sana. Kini meluncur aturan tentang batas waktu kuliah. Kini terbit kebijakan tentang sistem pembayaran. Belakangan muncul pula aturan soal pakaian yang sopan. Seakan kampus seperti ruang kendali keamanan: mahasiswa dipantau kedisiplinan, dikontrol pikiran dan dikendalikan geraknya. Tak hanya itu kampus kemudian membuat kompetisi apa saja: lomba debat, lomba usaha hingga lomba pidato. Para juaranya wajahnya dipasang di baliho depan kampus. Seakan-akan itulah yang dikehendaki dari kampus pada mahasiswa, jadi juara lomba apa saja. Tak mirip dengan Sekolah Dasar tapi jauh lebih bebas anak anak TK. Kalau tak percaya bandingkan fotomu semasa kuliah dengan waktu dirimu kecil: sungguh sangat berbeda. Satunya riang dan nekat sedang satunya kelihatan kuatir dan cemas. Jika kamu sadar sebenarnya bukan pendidikan tinggi yang kamu nikmati tapi belenggu imaginasi yang sedang kamu hadapi. Maka waktunya kamu menolak untuk dipenjara. Jangan mudah percaya dengan apa yang selalu dikatakan oleh mereka dan jangan gampang patuh dengan aturan yang dibuat mereka. Kampus bukan tempat yang menjamin sepenuhnya masa depan melainkan tempat dimana mimpi dan keyakinamu sedang dipertaruhkan. Dalam sejarah pendidikan kaum pembangkang biasanya lebih berhasil dalam hidupnya ketimbang mereka yang memilih patuh dan percaya. Maka jika boleh aku sarankan: lakukan petualangan sejak hari ini untuk menikmati betapa memukaunya menjadi mahasiswa. Biarkan dirimu terlibat dalam gerakan karena dari sana kamu akan mencicipi beda kompromi dengan berani.

          Jadilah dirimu seperti Soekarno yang percaya bahwa ilmu tekhnik bukan untuk membangun gedung saja tapi membangun jiwa rakyat yang sedang ditindas. Jadilah seperti Hatta yang mempelajari ilmu ekonomi untuk melahirkan konsep koperasi. Kalau mungkin bacalah Che Guevara yang mendapat pengetahuan medis untuk jadi bahan dasar revolusi. Tengoklah kisah Fidel Castro yang menjadikan pengetahuan hukum sebagai dasar untuk menentang kediktatoran. Mereka menanam perubahan sedari muda dengan meyakini kalau tugas kuliah bukan untuk datang dan mendapat gelar. Mereka meluncur menjadi sosok yang tak mau ditundukkan oleh aturan dan malah mencoba untuk melawanya. Soekarno menentang rektornya sendiri, Hatta melawan pemerintah Belanda yang biayai kampusnya dan Guevara malah menjatuhkan tahta penguasa. Pengetahuan di pendidikan tinggi jadi kekuatan yang membebaskan. Membebaskan rakyat dari belenggu ketidak-adilan, kemiskinan dan kebodohan. Keadaan yang hari-hari ini makin mengkuatirkan dan kita menyaksikan dengan terang-terangan. Membunuh karena kebutuhan, bunuh diri karena putus asa dan protes karena terus didzalimi. Bisakah kamu diam dan tenang duduk di bangku kuliah ketika di luar ruanganmu ada banyak rakyat menjerit, luka dan terus berharap kedatanganmu? Saatnya kamu membuat sejarah sebagaimana dulu Soekarno dan Hatta membuatnya. Saatnya kamu tidak menjadi seperti mereka: para sarjana yang hidupnya hanya untuk mengkhianati nuraninya dan rakyatnya sendiri. Jangan biarkan kalian hidup seperti keinginan mereka: patuh, taat dan lulus secepat yang mereka kira. Karena tokh mereka hanya jadi seperti sekarang ini; memerintah, membuat aturan dan menakut-nakuti masa depan. Genggam erat mimpi perubahan karena kalian telah jadi mahasiswa. Jadilah seperti dulu para mahasiswa yang membebaskan dan memerdekakan negeri ini. ***


*Tulisan ini pernah dimuat di portal IndoProgress
#repost

QIRA'AH DALAM AL QUR'AN




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perbedaan lahjah atau dialek baik masa itu maupun saat ini membawa konsekuensi terhadap ragam bacaan (qira’ah) dalam melafadzkan Al Qur’an. Memang kendati lahirnya macam-macam bacaan dalam Al Qur’an tidak bisa dihindari. Rasulullah SAW. sendiri membenarkan membaca Al Qur’an dengan berbagai qira’ah. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan kami coba mengupas materi terkait Qira’atul Qur’an. 

B.     Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan qira’ah?
2.      Berapa ragam qira’ah yang populer?
3.      Bagaimana sejarah qira’ah itu?
4.      Apa saja qira’ah yang diterima dan ditolak?
5.      Apa manfaat kita mempelajari qira’ah ?

C.    Tujuan Punulisan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yakni membahas dan mengetahui tentang:
1.      Pengertian qira’ah
2.      Ragam qira’ah yang populer
3.      Sejarah qira’ah
4.      Qira’ah yang diterima dan ditolak
5.      Manfaat kita mempelajari qira’ah


BAB II
QIRA’ATUL QUR’AN
A.    Definisi Qira’ah
Kata qira’ah secara bahasa memiliki arti bacaan. Kata tersebut merupakan bentuk dari masdar qara’a. dapat pula diartikan dengan menghimpun atau mengumpulkan. Sedangkan pengertian secara terminology terjadi beberapa pendapat.
Menurut Abdul Fatah al Qadhi, qira’at yaitu ilmu yang membahas tentang tatacara pengucapan kalimat-kalimat Al Qur’an berikut cara pelaksanaannya baik yang disepakati maupun yang terjadi perbedaan dengan menisbatkan setiap wajahnya pada seorang imam qira’at. Sedagkan menurut Muhammad Abdul Azhim al Zarqani, qira’at ialah salah satu sistem (aturan) yang disepakati oleh salah seorang imam qira’at yang berbeda dengan lainnya dalam hal membaca Al Qur’an.[1]
Manna’ al Qaththan menyatakan bahwa qira’ah merupakan mazhab dalam pengucapan Al Qur’an yang dipilih oleh salah seorang imam Qurra’ sebagai mazhab yang berbeda dank has dengan mazhab lainnya. Ibnu al Jarri berpendapat, qira’ah merupakan pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimah Alqur’an dengan menyandarkan pada penukilnya.[2] 
Muhammad Ali ash Shabuni, seperti yang dikutip M. Natsir Arsyad, menyatakan bahwa qira’ah merupakan adalah salah satu aliran dalam pengucapan Alquran yang dipakai oleh salah seorang imam Qurra’ yang berbeda satu dengan lainnyadengan mendasarkan diri pada sanad-sanad yang sampai kepada Rasulullah Saw.[3]

B.     Ragam Qira’ah
Adapun ragam aliran dalam qira’at yang masyhur ialah qira’ah sab’ah, qira’ah ‘asyrah, dan qira’ah arba’a ‘asyrah. Penjelasan lebih lanjut silahkan cermati keterangan berikut:
1.      Qira’ah Sab’ah, yakni qira’ah yang merujuk pada tujuh imam termasyhur. Mereka itu ialah:[4]
a.       Imam Ibnu Katsir dari Makkah. Nama lengkap beliau ialah Abu Ma’bad Muhammad Abdullah bin Katsir bin Umar bin Zadin ad Dari al Makki (45-120 H). Ia belajar qira’ah kepada sahabat Nabi Saw., Abu Said bin Abdullah bin Shaib al-Makhzumi. Rawinya adalah Abu Bakar Syu’bah bin Ilyas dan Abu Amr Hafs bin Sulaiman. Versi lain menyebutkan bahwa rawinya adalah Qunbul Abu Amr Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad al-Makhzumi al-Makki (195-291 H) dan al-Bazzi Abu Hasan Ahmad bin Abdullah bin al Qasim (170-250 H).
b.      Imam Nafi’ dari Isfahan (Madinah). Nama lengkapnya adalah Abi Nu’aim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim al Laitsi al Isfahani al Madani (70-169 H). ia belajar qira’ah kepada Zaid bin Qa’qa al-Qurri Abu Ja’far dan Abu Maimunah. Semula ia adalah seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Abu Sulamah. Perawinya adalah Qalum Abu Musa Isa bin Mina (120-220 H) dan Warasy Abu Said (Abu Umar atau Abu Qasim) Utsman bin Said (110-1997 H) 
c.       Imam ‘Asyim bin Abi Nujuh bin Bahdalah al Asadi al Kufi (w. 127 H). Ia belajar qira’ah kepada Sa’ad bin Iyasi asy-Syaibani, Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib as-Salami, dan Zir bin Hubaisy. Rawinya adalah Abu Bakar Syu’bah bin Iyasi bin Salim al-Asadi (95-193 H) dan Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Bazzaz al-Kufi. Versi lain menyebutkan nam Ibnu Khalaf dan Ibnu Khallad.
d.      Imam Hamzah dari Kufah. Nama lengkapnya ialah Abu Imarah Hamzah bin Habib az Zayyat al Fardhi  Attaini (156-216 H). ia belajar qira’ah kepada Imam ‘Ashim Imam as-Sabi’i Abu Muhammad Sulaiman bin Mahram al A’mari (80-220 H), Mansyur bin Mu’tamir, dan Ja’far as-Shaddiq. Rawinya adalah Abu Muhammad bin Khallaf bin Hisyam bin Thalib al-Bazzaz (150-229 H) dan Abu Isa bin Khallad bin Khalid asy-Syairafi (w. 220 H).
e.       Imam al Kuzai dari Kufah, Baghdad. Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Fairuz al Farizi al Kuzai Annahwi (119-189 H). ia belajar qira’ah kepada Imam Hamzah dan Imam Su’bah bin Iyasy. Rawinya adalah Abu Harits al-Laitsi bin Khalid al-Mawarzi al-Muqri dan Imam Hafzh ad-Dauri.  
f.       Imam Abu Amr dari Basrah. Lengkapnya adalah Abu Amr Zabban bin al A’la bin Ammar al Basri (70-154 H). ia belajar qira’ah kepada al-Baghdadi dan Hasan al-Basri. Rawinya adalah ad-Dauri Abu Amr Hafzh bin Umar al-Muqri (w. 246 H) dan as-Susi Abu Syu’aib Shalil bin Ziyad (w. 261 H).
g.      Imam Abu Amir dari Damaskus. Nama lengkapnya adalah Abu Nu’aim Abu Imran Abdullah bin Amir asy Syafi’i Alyas Hubi (21-118 H). ia belajar qira’ah kepada Abu Darda’ dan Mughirah bin Syu’bah. Rawinya adalah al-Bazzi Abu Hasan Hamid bin Muhammad bin Qunbul Abu Umar Muhammad. Versi lain menyebutkan nama Hisyam Abu Walid Abu Ammar bin Nashir as-Sulami al-Qadhi al-Dimasyqi (154-245 H) dan Ibnu Zaqwan Abu Umar Abdullah Ahmad bin Basyir bin Zakwan al-Quraisyi ad-Dimasyqi (202-273 H). 
2.      Qira’ah ‘Asyrah, ialah qira’ah sab’ah ditambah dengan tiga imam qira’ah lainnya. Tiga tersebut yakni:
a.       Imam Ya’kub dari Basrah. Nama lengkap beliau ialah Abu Muhammad Ya’kub bin Ishaq al Basri al Madhrami.
b.      Imam Khallaf dari Kufah. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Thalib al Makki al Bazzaz
c.       Imam Abu Ja’far dari Madinah. Nama lengkapnya ialah Abu Ja’far Yazid bin al Qa’qa al Makhzumi al Madani
3.      Qira’ah Arba’a ‘Asyrah, yakni sama dengan qira’ah ‘asyrah hanya dengan menambahi empat imam lagi. Mereka adalah Imam Hasan al Basri, Imam Ibnu Mahisy, Imam Yahya al Yazidi, dan Imam asy Syambudzi.

C.    Historitas Qira’ah
1.      Qira’at di Zaman Rasulullah dan Sahabat
Pada maa Rasulullah SAW qira’at ini memang sudah ada. bahkan beliau juga mengajarkan kepada para sahabat. Salah satu hadis popular yang menjelaskan hal demikian ialah hadis riwayat Umar bin Khattab. Ia berkata, “aku mendengar Hisyam Ibn Hakim membaca surah al Furqan di masa hidup Rasulullah lalu aku sengaja mendengarkan bacaanya. Tiba-tiba dia membacanya dengan logat yang berbeda yang belum pernah dibacakan Nabi kepadaku. Hampir saja ketegur dia dalam shalat, namun aku berusaha menunggu dengan sabar sampai dia salam. Begitu dia salam aku tarik leher bajunya seraya bertanya, “siapa yang mengajari bacaan surah ini?” Hisyam menjawab “Yang mengajarkan bacaan tadi adalah Rasulullah sendiri”. Aku gertak dia, “Kau bohong, Rasulullah telah membacakan surah ini kepadaku surah yang kubaca tadi (tetapi tidak seperti bacaanmu). Maka aku ajak dia menghadap Rasulullah dank u ceritakan peristiwanya. Lalu Rasulullah menyuruh Hisyam membaca surah al Furqan sebagaimana yang dia baca tadi. Kemudian Rasulullah bersabda, “Demikianlah surah itu diturunkan” lalu Rasulullah bersabda kepada lagi, “sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah mana yang kalian anggap mudah.”
2.      Qira’at di Zaman Tabi’in dan Munculnya Ulama-Ulama Termasyhur
Beberapa nama yang tercatat bangkit menggantikan para sahabat dan membentuk kelompok di masing-masing negaranya, antra lain:
a.       Dari Madinah: Muadz Ibn al Harits, Said Ibn al-Musayyib, ‘Urwah Ibn Zubair, Atha’ Ibn Yasar, dan lain-lainnya.
b.      Dari Makkah: Ubaid ibn Umar, Mujahid, Thawus, Ikrimah, dan lain-lain.
c.       Dari Kufah: Ilqimah, Masruq, Abu Abdurrahmanal al Sulami, al-Aswad, Said Ibn Jubair, al-Sya’bi, dan lain-lainnya.
d.      Dari Basrah: Abu al-‘Aliyah, Yahya Ibn Ya’mar, Nasr Ibn Ashim al Hasan al Basyri, Ibn Sirin, Qatadah, dan lain sebagainya.
e.       Dari Syam: al-Mughirah Ibn Ali Syihab al Mahzumi dan Khulaid Ibn Sa’ad
Perkembangan qira’at masalah yang perlu ditangani secara serius. Sebab hadis Nabi tadi menerangkan tentang ragam bacaan dalam Al Qur’an. Akhirnya banyak bermunculan versi-versi yang mengaku bersumber dari Nabi SAW. 
Para ulama dan ahli al-Qur’an cepat tanggap untuk menjaga kemurnian al-Qur’an, jangan sampai rusak karena bacaan yang sanad dan silsilahnyatidak sampai kepada Rasulullah. Para ulama terutama ahlli al-Qur’an melakukan kegiatan meneliti, menyeleksi dan mengujikebenaran qira’at yang dikatakan sebagai bacaan al-Qur’an pada akhir abad kedua Hijriyah. Penelitian dan pengujian tersebut dilakukan dengan memakai kaidah dan kriteria yang telah disepakati oleh para ahli qira’at.[5]
Setalah itu, macam-macam bacaan dalam Al Qur’an yang beredar. Dengan penelitian itu dapat dibedakan antara qira’at yang memenuhi syarat dan tidak. Beberapa diantaranya yang terkenal dalam karyanya, Ahmad Ibn musa Ibn Abbas atau lebih dikenal Ibn Mujahid. Beliau menulis buku qira’at dengan fokus pada tujuh imam qira’at atau “Qira’ah Sab’ah”. Adapun nama-nama dari ketujuh imam tersebut telah disebutkan dia atas.

D.    Qira’ah yang Diterima dan Ditolak
Dalam hal ini kesahihan sebuah sanad qiro’ah, Ibnu Jazari mengelompokkan dalam beberapa klasifikasi berikut:[6]
a)      Mutawatir, yaitu qaria’ah yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang dari sejumlah periwayat yang banyak pula sehingga tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta. Menurut Jumhur ulama, qiro’ah sab’ah adalah mutawatir.
b)      Masyhur, yaitu qiro’ah yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW., tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang atau beberapa orang yang adil dan tsiqoh., serta sesuai dengan bahasa Arab dan dengan salah satu Mushaf Utsmani, baik berasal dari imam tujuh, imam sepuluh, atau imam yang diakui.
c)      Ahad, yaitu qiro’ah yang sanadnya shahih, tetapi menyalahi Mushaf Utsmani atau kaidah bahasa Arab atau tidak masyhur. Qiro’ah ini tidak boleh dibaca dan tidak wajib diyakini seperti riwayat yang dikeluarkan al-Hakim dan jalur Ashim al-Jadari dari Abu Bakrah bahwa Nabi SAW., pernah membaca laqad  ja’akum min anfusikum dengan fa yang dibaca fathah.
d)     Syadz, yaitu qiroah yang sanadnya cacat dan tidak bersambung sampai Rasulullah SAW.
e)      Maudlu’, yaitu qiro’ah yang dinisbatkan kepada seorang tanpa dasar, seperti qiro’ahriwayat Muhammad Ibnu Ja’far al-Khuza’I (w. 408) konon yang berasal dari Abu Hanifah.
f)       Mudraj, yaitu qiro’ah yang didalamnya terdapat lafad atau kalimat tambahan yang biasanya dijadikan penafsiran bagi ayat Al Quran. Misalnya, qiro’ah Ibnu Abbas : laisa ‘alaikum junahun an tabtaghu fadhlan min rabbikum kemudian ditambahkan kalimat fi mawas mil hajj.

E.     Faedah Perbedaan Qira’ah
Keberadaan qira’ah menjadi kompenen pelengkap dalam kajian Al Qur’an. Beberapa keistimewaaan atau kelebihan dari adanya qira’ah ialah:[7]
1.      Mempermudah suku-suku yang berbeda logat, tekanan suara, dan bahasa dengan bahasa Alqur’an, khususnya kaum Arab yang pada awal Islam diajak berdialog dengan Alqur’an, sementara mereka terdiri dari banyak kabilah dan suku.
2.      Qira’ah tersebut membantu dalam kajian tafsir, menjelaskan apa yang mungkin masih global dalam qira’ah lain, terutama dalam pengistimbatan hokum. Misalkan, qira’ah Ibnu Mas’ud (QS. Al Maidah, 5: 38) yang berbunyi wa as-sariqatu fa iqtha’u aidiyahuma… dalam qira’ah lain dibaca faqtha’u aimanahuma.
3.      Menunjukkan keterjagaan dan keterpeliharaan Alqur’an dari kemungkinan adanya perubahan dan penyimpangan padahal Alqur’an mempunyai banyak segi bacaan.
4.      Membuktikan kemukjizatan Alqur’an, baik dari makna atau lafazhnya. Perbedaan qira’ah itu terjadi terkadang dari segi lafad, tidak dalam makna seperti lafad ash sirath dibaca ash suruth; terkadang dari segi lafd dan makna seperti lafad mliki dan maliki dalam surah al-Fatihah.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Uraian di atas tadi dapat kita tarik kesimpulan bahwa qira’atul qur’an merupakan cabang ilmu Al Qur’an yang membahas tentang tatacara pengucapan kalimat-kalimat Al Qur’an berikut cara pelaksanaannya baik yang disepakati maupun yang terjadi perbedaan dengan menisbatkan setiap wajahnya pada seorang imam qira’at.
Adapun ragam aliran dalam qira’at yang masyhur ialah qira’ah sab’ah, qira’ah ‘asyrah, dan qira’ah arba’a ‘asyrah. Historitas qira’ah itu sendiri sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW.  Namun saat itu belum diadakan kodifikasi. Karena pada saat itu Nabi Muhammad SAW dan orang-orang saat itu al Ummy, yakni tidak bisa baca dan tulis.
Kemudian qira’ah yang bisa diterima dan ditolak terdiri dari mutawatir, masyhur, ahad, syadz, maudlu, dan mudraj. Selanjutnya, dari belajar ilmu qira’ah dapat diambil manfaat sebagai berikut: memudahkan untuk dibaca, membantu dalam kajian tafsir, menunjukkan kemukjizatan Al Qur’an, dan menunjukkan bahwa Al Qur’an terjaga atau terpelihara.

B.     Saran
Agar pembaca dapat mengetahui lebih jelas dan lebih luas tentang pembahasan pada makalah kami, alangkah baiknya jika pembaca mencoba membaca materi-materi terkait pambahasan Qira’atul Qur’an yang lebih banyak khususnya selain dari referensi kami. Misalkan, buku Ulumul Qur’an oleh Abu Anwar, Ulumul Qur’an oleh Naqiyah Mukhtar, Ulumul Qur’an oleh Muhammad Amin Suma, dan sebagainya.

C.    Penutup
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan mengenai materi tentang Qira’atul Qur’an. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya referensi atau rujukan yang kami peroleh. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami juga banyak berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Sekian penutup dari kami semoga dapat diterima dan kami mengucapkan terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Mawardi. 2011. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Izzan Ahmad. 2011. Ulumul Qur’an. Bandung: Tafakur



[1] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 104-105
[2] Ahmad Izzan, Ulumul Qur’an, (ed. rev.) (Bandung: Tafakur, 2011), hal. 202
[3] Ibid., hal. 203
[4] Ahmad Izzan, loc. cit.
[5] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 110
[6] Ahmad Izzan, op. cit., hal. 202
[7] Ahmad Izzan, op. cit., hal. 208